Ketika menjalani proses ta'aruf, salah satu tantangan yang sering muncul adalah:
“Apa yang sebaiknya saya tanyakan kepada calon pasangan?”
Banyak orang dapat mengobrol berjam-jam tentang pekerjaan, makanan favorit, hobi, film, atau aktivitas sehari-hari.
Namun ketika tujuannya adalah pernikahan, percakapan perlu bergerak lebih jauh.
Anda sedang mencoba memahami seseorang yang mungkin kelak menjadi pasangan hidup, orang tua bagi anak-anak Anda, bagian dari keluarga besar, sekaligus orang yang akan bersama-sama menghadapi berbagai keputusan kehidupan.
Karena itu, pertanyaan ta'aruf sebelum menikah sebaiknya membantu kedua pihak memahami nilai, karakter, visi, dan kesiapan masing-masing.
Berikut beberapa pertanyaan penting yang dapat menjadi bahan diskusi selama proses ta'aruf.
1. “Apa Tujuan Kamu Menikah?”
Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi jawabannya dapat membuka pembicaraan yang sangat luas.
Setiap orang mungkin memiliki alasan berbeda untuk menikah.
Ada yang ingin membangun keluarga.
Ada yang ingin memiliki teman hidup.
Ada yang ingin memiliki keturunan.
Ada pula yang merasa pernikahan merupakan bagian dari perjalanan ibadah dan kehidupannya.
Tidak harus memiliki jawaban yang sama persis.
Namun penting mengetahui apakah kalian memiliki gambaran pernikahan yang dapat berjalan dalam arah yang sama.
Anda juga dapat melanjutkan dengan pertanyaan:
“Menurut kamu, pernikahan yang baik itu seperti apa?”
Jawaban seseorang dapat memberikan gambaran mengenai ekspektasinya terhadap kehidupan rumah tangga.
2. “Apa yang Kamu Harapkan dari Suami atau Istri?”
Setiap orang membawa ekspektasi ke dalam pernikahan.
Masalahnya, tidak semua ekspektasi pernah dibicarakan.
Seseorang mungkin menganggap suami harus melakukan sesuatu.
Sementara calon pasangannya memiliki pandangan berbeda.
Begitu pula dengan peran istri.
Daripada baru mengetahui perbedaan tersebut setelah menikah, lebih baik membicarakannya sejak proses ta'aruf.
Tanyakan mengenai:
Peran suami;
peran istri;
pembagian pekerjaan rumah;
pengambilan keputusan;
pekerjaan setelah menikah;
dan bentuk dukungan yang diharapkan dari pasangan.
Tujuannya bukan mencari jawaban yang “paling benar”, tetapi memahami ekspektasi masing-masing.
3. “Setelah Menikah Kita Akan Tinggal di Mana?”
Ini adalah salah satu pertanyaan untuk calon pasangan yang sangat praktis tetapi sering terlupakan.
Apakah akan:
Tinggal sendiri;
menyewa rumah;
tinggal bersama orang tua;
tinggal dekat keluarga;
atau pindah mengikuti pekerjaan?
Misalnya calon suami bekerja di Jakarta, sementara calon istri memiliki pekerjaan tetap di Surabaya.
Siapa yang akan pindah?
Apakah memungkinkan bekerja dari jarak jauh?
Bagaimana jika keduanya tidak ingin meninggalkan kota masing-masing?
Masalah lokasi dapat terlihat kecil ketika masih ta'aruf, tetapi setelah menikah menjadi persoalan yang sangat nyata.
4. “Seberapa Besar Keterlibatan Keluarga Setelah Menikah?”
Pernikahan sering kali tidak hanya mempertemukan dua orang.
Ada keluarga dari kedua pihak.
Karena itu, pembicaraan mengenai batas keterlibatan keluarga sangat penting.
Misalnya:
Apakah keputusan rumah tangga harus selalu dibicarakan dengan orang tua?
Seberapa sering mengunjungi keluarga?
Bagaimana jika orang tua membutuhkan bantuan finansial?
Bagaimana apabila terjadi konflik antara pasangan dan keluarga?
Tidak perlu membuat aturan kaku sejak awal.
Yang penting adalah memahami cara calon pasangan memandang hubungan antara pasangan dan keluarga besar.
5. “Bagaimana Kondisi dan Cara Kamu Mengelola Keuangan?”
Pertanyaan finansial terkadang dianggap sensitif.
Padahal keuangan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan rumah tangga.
Tidak perlu langsung bertanya:
“Tabungan kamu berapa?”
Mulailah dari cara berpikir.
Misalnya:
“Biasanya kamu mengatur pemasukan seperti apa?”
“Apakah terbiasa menabung?”
“Bagaimana pandanganmu mengenai cicilan dan utang?”
Jika proses sudah semakin serius, kondisi finansial yang relevan sebaiknya mulai dibicarakan secara lebih terbuka.
Termasuk apabila terdapat utang atau kewajiban finansial besar.
Lebih baik mengetahui kondisi sebenarnya daripada membangun pernikahan berdasarkan asumsi.
6. “Apakah Kamu Ingin Memiliki Anak?”
Jangan menganggap semua orang pasti memiliki jawaban yang sama.
Ada yang ingin segera memiliki anak.
Ada yang ingin menunggu.
Ada yang menginginkan banyak anak.
Ada pula yang mungkin memiliki kondisi atau pertimbangan tertentu.
Selain pertanyaan mengenai keinginan memiliki anak, pembicaraan dapat berkembang ke:
Parenting;
pendidikan anak;
pembagian tanggung jawab;
pekerjaan setelah memiliki anak;
hingga hubungan anak dengan keluarga besar.
Ini merupakan salah satu topik yang cukup fundamental sehingga sebaiknya tidak dihindari.
7. “Bagaimana Pandanganmu Mengenai Karier Setelah Menikah?”
Pekerjaan dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan.
Waktu bersama.
Tempat tinggal.
Keuangan.
Pengasuhan anak.
Bahkan kemungkinan pindah kota atau negara.
Tanyakan apakah calon pasangan ingin terus bekerja setelah menikah.
Bagaimana jika pekerjaan membutuhkan perjalanan dinas?
Bagaimana jika salah satu mendapatkan kesempatan karier di luar kota?
Pembicaraan ini membantu kalian memahami prioritas masing-masing.
8. “Apa Prinsip yang Tidak Bisa Kamu Kompromikan?”
Setiap orang memiliki batas.
Ada sesuatu yang masih dapat didiskusikan.
Ada pula sesuatu yang benar-benar menjadi prinsip.
Mengetahui non-negotiable calon pasangan sangat membantu.
Misalnya berkaitan dengan:
Agama;
tempat tinggal;
anak;
pekerjaan;
keluarga;
gaya hidup;
atau nilai kehidupan tertentu.
Anda juga perlu menyampaikan prinsip sendiri dengan jujur.
Tujuan ta'aruf bukan membuat calon pasangan selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar.
Tujuannya adalah mengetahui apakah kedua orang memang dapat berjalan bersama.
9. “Kalau Sedang Marah, Biasanya Kamu Seperti Apa?”
Ini salah satu pertanyaan favorit untuk menggali pola komunikasi.
Seseorang mungkin sangat menyenangkan ketika suasana sedang baik.
Namun kehidupan pernikahan tidak selalu berada dalam kondisi ideal.
Akan ada perbedaan pendapat.
Akan ada kelelahan.
Akan ada kesalahpahaman.
Karena itu, coba pahami bagaimana seseorang menghadapi konflik.
Apakah membutuhkan waktu sendiri?
Apakah lebih suka langsung membicarakan masalah?
Apakah mudah meninggikan suara?
Apakah mampu meminta maaf?
Kemampuan menyelesaikan konflik merupakan bagian penting dari kehidupan bersama.
10. “Bagaimana Cara Kamu Menyelesaikan Perbedaan Pendapat?”
Anda tidak membutuhkan pasangan yang selalu setuju.
Hal tersebut hampir mustahil.
Yang lebih penting adalah menemukan seseorang yang dapat berbeda pendapat dengan sehat.
Coba tanyakan pengalaman ketika calon pasangan pernah memiliki konflik dengan keluarga, teman, atau rekan kerja.
Bagaimana ia menyelesaikannya?
Apakah langsung memutus hubungan?
Apakah menghindari masalah?
Atau mencoba berdiskusi?
Pengalaman masa lalu tidak selalu menentukan masa depan, tetapi dapat membantu memahami pola seseorang dalam menghadapi masalah.
11. “Bagaimana Hubunganmu dengan Orang Tua dan Keluarga?”
Cara seseorang memperlakukan keluarga dapat memberikan informasi yang berguna mengenai kehidupannya.
Namun jangan terburu-buru menghakimi.
Tidak semua orang memiliki latar belakang keluarga yang sama.
Ada yang tumbuh dalam keluarga harmonis.
Ada yang memiliki hubungan keluarga yang rumit.
Ada yang kehilangan orang tua sejak kecil.
Karena itu, dengarkan ceritanya dengan empati.
Tujuannya bukan menilai keluarganya.
Tujuannya adalah memahami konteks kehidupan calon pasangan.
12. “Apa Targetmu dalam Lima Tahun ke Depan?”
Pertanyaan mengenai masa depan dapat membantu mengetahui apakah arah kehidupan kalian kompatibel.
Mungkin seseorang ingin menetap di kampung halaman.
Sementara yang lain bercita-cita tinggal di luar negeri.
Seseorang ingin membangun bisnis.
Pasangannya menginginkan kehidupan dengan pendapatan yang lebih stabil.
Tidak berarti salah satu lebih baik.
Namun perbedaan arah yang terlalu besar perlu diketahui sebelum menikah.
Anda tidak harus memiliki rencana lima tahun yang sempurna.
Hidup dapat berubah.
Tetapi memiliki gambaran arah tetap membantu.
13. “Bagaimana Kamu Membagi Waktu antara Pasangan, Keluarga, Teman, dan Pekerjaan?”
Setelah menikah, seseorang tetap memiliki kehidupan lain.
Ada pekerjaan.
Keluarga.
Teman.
Komunitas.
Hobi.
Pertanyaannya adalah bagaimana semua itu akan diseimbangkan.
Jika seseorang bekerja hampir setiap hari hingga tengah malam, misalnya, calon pasangan perlu mengetahui realitas tersebut.
Jika seseorang sangat dekat dengan keluarga dan hampir setiap akhir pekan berkumpul bersama mereka, hal itu juga layak dibicarakan.
Ekspektasi mengenai waktu bersama dapat berbeda antara satu orang dengan lainnya.
14. “Apa Kekhawatiran Terbesarmu tentang Pernikahan?”
Ini merupakan pertanyaan yang cukup dalam.
Jawabannya dapat membuka percakapan mengenai sesuatu yang mungkin belum pernah dibicarakan.
Ada yang takut gagal menjadi pasangan yang baik.
Ada yang khawatir mengenai finansial.
Ada yang takut kehilangan kebebasan.
Ada yang memiliki pengalaman buruk dari pernikahan orang tuanya.
Ada pula yang takut menghadapi konflik.
Tidak semua ketakutan merupakan red flag.
Justru kemampuan seseorang mengakui kekhawatirannya dapat menjadi awal percakapan yang lebih jujur.
Anda juga dapat membagikan kekhawatiran sendiri.
15. “Kalau Kita Cocok, Seperti Apa Langkah Selanjutnya?”
Ta'aruf sebaiknya tidak berjalan tanpa arah.
Setelah proses mengenal berjalan cukup jauh, kedua pihak perlu memahami apa yang akan dilakukan berikutnya.
Apakah keluarga akan dipertemukan?
Apakah ada proses nazhor?
Kapan mulai membicarakan rencana pernikahan?
Berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum mengambil keputusan?
Tidak perlu memberikan ultimatum.
Namun memiliki arah membuat proses lebih jelas.
Karena tujuan ta'aruf bukan mempertahankan status:
“Sedang dekat.”
Tujuannya adalah memperoleh informasi yang cukup untuk menentukan:
lanjut atau tidak.
Jangan Mengubah Ta'aruf Menjadi Wawancara Kerja
Setelah membaca daftar pertanyaan di atas, jangan langsung mengirim 15 pertanyaan sekaligus kepada calon pasangan.
Ta'aruf bukan ujian pilihan ganda.
Dan calon pasangan bukan kandidat karyawan.
Gunakan pertanyaan sebagai panduan percakapan, bukan checklist interogasi.
Beberapa topik dapat dibicarakan dalam satu sesi.
Topik lain dapat muncul secara alami ketika percakapan berkembang.
Yang paling penting bukan seberapa banyak pertanyaan yang berhasil ditanyakan.
Tetapi seberapa jujur kedua pihak membicarakan hal-hal yang memang penting.
Jangan Hanya Mendengar Jawaban, Perhatikan Konsistensinya
Jawaban yang terdengar bagus belum tentu cukup.
Perhatikan apakah perkataan seseorang konsisten dengan perilakunya.
Misalnya seseorang mengatakan sangat menghargai komunikasi.
Namun setiap kali ada perbedaan pendapat, ia menghilang selama beberapa hari tanpa penjelasan.
Seseorang mengatakan sangat menghargai privasi.
Namun ia meminta foto atau informasi pribadi secara berlebihan.
Seseorang mengatakan bertanggung jawab secara finansial.
Namun tidak mau terbuka mengenai utang besar ketika proses sudah menuju tahap serius.
Dalam proses ta'aruf, konsistensi dapat memberikan informasi yang sama pentingnya dengan jawaban verbal.
Bagaimana Jika Jawabannya Berbeda?
Berbeda tidak selalu berarti tidak cocok.
Dua orang tidak harus memiliki pendapat identik mengenai seluruh hal.
Pertanyaannya adalah:
Apakah perbedaan tersebut dapat didiskusikan?
Dan:
Apakah kedua pihak dapat menerima konsekuensinya?
Misalnya Anda lebih suka tinggal dekat keluarga, sementara calon pasangan lebih memilih tinggal sendiri.
Mungkin masih ada jalan tengah.
Namun jika salah satu memiliki prinsip mutlak tinggal di luar negeri sementara yang lain tidak mungkin meninggalkan Indonesia, persoalannya berbeda.
Karena itu, bedakan antara:
perbedaan yang dapat dinegosiasikan
dan
perbedaan fundamental.
Jangan Takut Mengakhiri Proses dengan Baik
Salah satu fungsi ta'aruf adalah menemukan ketidakcocokan sebelum pernikahan.
Jika setelah berdiskusi ternyata terdapat perbedaan prinsip yang terlalu besar, tidak ada kewajiban untuk memaksakan proses.
Sampaikan keputusan dengan baik.
Jaga privasi.
Jangan menyebarkan percakapan.
Jangan menceritakan kekurangan calon pasangan kepada banyak orang.
Dan hormati keputusan apabila justru pihak lain yang memilih tidak melanjutkan.
Ta'aruf yang berhenti tidak selalu berarti gagal.
Bisa jadi proses tersebut justru berhasil memberikan jawaban sebelum keputusan yang jauh lebih besar dibuat.
Pertanyaan yang Tepat Membantu Mengenal Lebih Dalam
Pada akhirnya, pertanyaan ta'aruf sebelum menikah bukan dibuat untuk menemukan seseorang dengan jawaban sempurna.
Tidak ada manusia yang memiliki jawaban sempurna untuk seluruh persoalan kehidupan.
Pertanyaan digunakan untuk membuka percakapan.
Tentang nilai.
Tentang keluarga.
Tentang uang.
Tentang anak.
Tentang pekerjaan.
Tentang konflik.
Tentang mimpi.
Dan tentang kehidupan yang mungkin suatu hari akan dijalani bersama.
Jangan hanya bertanya:
“Apakah saya menyukai orang ini?”
Cobalah juga bertanya:
“Apakah kami dapat membangun kehidupan bersama?”
Karena rasa tertarik dapat menjadi awal sebuah perkenalan.
Tetapi kehidupan pernikahan membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: komunikasi, tanggung jawab, keterbukaan, kesediaan bertumbuh, dan tujuan yang dapat berjalan bersama.
Kenali Calon Pasangan dengan Lebih Terarah Bersama Ta'arufnesia
Ta'arufnesia hadir untuk membantu mereka yang memiliki niat serius menuju pernikahan menjalani proses pencarian pasangan secara lebih tertata.
Melalui CV Ta'aruf, preferensi pasangan, verifikasi, pencarian kandidat, compatibility, privasi foto, pengajuan ta'aruf, ruang komunikasi terstruktur, serta keterlibatan wali atau pendamping, proses mengenal calon pasangan dapat dilakukan dengan tujuan yang lebih jelas.
Teknologi dapat membantu mempertemukan.
Pertanyaan dapat membantu mengenal.
Keluarga dapat membantu memberikan pertimbangan.
Namun pada akhirnya, keputusan tetap perlu dijalani dengan matang oleh kedua pihak.
Kenali bukan sekadar apa yang terlihat. Kenali bagaimana kalian akan menjalani kehidupan ketika suatu hari berjalan bersama.
Ta'arufnesia — Mencari bukan sekadar cocok, tapi berkah.
